Pastikan Anda Ter-PUAS-kan !

Posts tagged “team building

OUTBOUND TRAINING ADALAH…..


Punya kegemaran jalan-jalan ke alam bebas ? Bersyukurlah jika Anda merupakan orang yang punya hobi asyik ini. Bersahabat dengan alam ternyata dapat menjadi tes psikologi yang ampuh bagi seseorang. Dewasa ini, kegiatan belajar bersama alam terbuka marak ditawarkan. Pergilah keluar rumah, ke alam terbuka. Rasakan bagaimana ketika kita berinteraksi baik dengan alam sekitar maupun sesama manusia, kita bisa mengambil banyak pengalamandan pelajaran berharga. Sebuah Pengalaman yang akan diterapkan sebagai konsep belajar dan membuka diri sendiri. Konsep inilah yang dianggap sanggup untuk merangsang banyak aktivitas kita sehari-hari.

Belakangan bila Anda jeli, ternyata tidak hanya dunia pendidikan saja yang mencoba untuk menggunakannya dalam kurikulum pembelajarannya, tapi juga banyak perusahaan yang tertarik untuk mencicipi program belajar ke alam terbuka. Meningkatnya permintaan akan model pelatihan ini berakibat banyak bermunculan operator outbound baru. Lambat laun karena tidak semua operator mengerti dan paham secara jelas mengenai outbound training akhirnya masyarakat awam terlanjur rancu dengan istilah outbound training. Banyak penyedia jasa maupun pengguna jasa berbasis aktivitas tali-temali (ropes course) menyebut kegiatannya sebagai outbound training. Sementara itu, banyak pula yang menyebut kegiatan rekreasi (outing) dengan outbound, hanya karena beberapa jenis permainan yang biasa digunakan dalam pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based) dimainkan pada acara itu. Di lain pihak, ada yang menyebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka sebagai outbound training.

Apa yang dimaksud Outbound Training ? Tentu kita pernah mendengar kata ‘Outbound Training‘ tapi tidak banyak diantara kita yang tahu apa itu outbound training. Secara mudah outbound training dapat diartikan sebagai salah satu metode pelatihan yang menggunakan alam sebagai media pembelajarannya.

Apa yang disebut sebagai outbound training oleh mereka yang menggunakan alam terbuka sebagai media belajar, sebenarnya lebih tepat jika disebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based training) dengan mengedepankan pendekatan belajar dari pengalaman (experiential learning).

Uraian yang disampaikan Wien tadi disetujui oleh Handriatno Waseso dari RAKATA—salah satu operator pelatihan di alam terbuka. Katanya, dalam literatur belajar dari pengalaman tak pernah dikenal istilah outbound training. ”Yang ada itu, outdoor based training. Mungkin salah kaprah ini karena operator pertama yang memasarkan pelatihan model ini di Indonesia adalah Outward Bound Indonesia (OBI). Karena keseringan disebut akhirnya keluar istilah outbound training,” tutur Handriatno mencoba meraba awal mula salah kaprah tadi.

Outbound training merupakan jenis latihan di alam terbuka (outdoor) untuk pengembangan diri (self development) yang disimulasi melalui permainan-permainan edukatif (educative game) baik secara individual maupun kelompok dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, berpikir kreatif, rasa kebersamaan, tanggung jawab, komunikasi, rasa saling percaya, dll. Training dalam Outbound dapat diikuti oleh semua kalangan dan semua usia dari anak-anak sampai dewasa. Setiap game outbound mempunyai tujuan-tujuan yang disesuaikan seperti : team building, communication skills, problem solving motivating, challages, dll

Secara singkat, Claxton (1987) mengemukakan bahwa yang disebut experiential learning (EL) adalah proses belajar di mana subjek melakukan sesuatu—bukan hanya memikirkan sesuatu. Ditinjau dari pengertian ini, maka apa yang dilakukan peserta belajar, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas, dapat disebut sebagai EL.

Pepatah mengatakan bahwa ”pengalaman adalah guru yang paling baik”. Makna yang sama telah dikemukakan oleh Confucius beberapa abad lalu. Dia mengatakan bahwa: ”aku melakukan, maka aku memahami”.

Lebih jauh Wien memaparkan bahwa kegiatan EL itu tak terbatas belajar di alam terbuka. ”Cakupannya bisa dari bercocok tanam sampai ke conflict resolution. Dari assessment (psikologis) sampai ke perkembangan remaja. Dari skill training sampai ke model-model teori.” Malahan sebagian besar orang menyebut bahwa semua jenis pendidikan adalah EL.
Yah… memang dengan banyak bermunculannya pendapat dari banyak orang mengenai apa itu sebenarnya Outbound Training. Agar tidak terjadi kesimpang siuran mengenai informasi ini ,maka ada baiknya disimak apa itu pengertian Outbound Training dari seorang pakar Psikologi yang lebih sering dikenal sebagai “Professor” Outboundnya Indonesia yaitu Prof. Dr. Djamaludin Ancok menurut beliau outbound training adalah ; salah satu bentuk kegiatan yang paling efektif untuk meningkatkan motivasi dan kreativitas adalah pembentukan kerja sama tim yang dilakukan melalui outbond training di alam terbuka.

Namun terlepas dari semua perbedaan pola pikir kita mengenai metode pelatihan ini, kita sepenuhnya sadar sedikit banyak metode outbound training telah merubah banyak karakter anak bangsa ini. Semua kembali ke kita masing2 akan mengartikan apa outbound training ini, yang penting porses membangun karakter anak bangsa ini dengan metode outbound training jangan sampai berhenti

Iklan

TIPS MEMBANGUN TEAM KERJA YANG KUAT (Team Building)


Bekerja dengan rekan satu tim tidak selalu menyenangkan. Secocok apa pun Anda dengan teman-teman, selalu ada masa ketika pendapat setiap orang bisa berbeda. Ada juga kalanya salah seorang dari rekan Anda sedang mengalami masalah, sehingga kinerjanya menurun. Agar pekerjaan bisa selesai dan hubungan tetap baik setiap hari Anda perlu menjaga irama kerja bersama-sama.

Beberapa Tips untuk membangun tim (Team Building) yang solid, antara lain :

  • Komitmen. Setiap anggota tim perlu memiliki komitmen yang sama, untuk mencapai misi pekerjaan. Sejauh mana Anda memandang kontribusi Anda terhadap perusahaan dan juga demi kemajuan diri sendiri? Pertanyaan ini juga perlu selalu diajukan ke setiap anggota tim lainnya.
  • Komunikasi. Tim Anda tidak akan bisa bekerja optimal jika tidak ada komunikasi yang baik. Untuk itu, Anda perlu memastikan bahwa hubungan Anda dengan rekan-rekan didasari oleh komunikasi yang tulus dan jujur. Begitu juga dengan atasan dan perusahaan. Pastikan hasil kerja tim selalu mendapatkan umpan balik dari atasan dan perusahaan. Karena, jika tidak ada saran atau kritik, bagaimana Anda tahu bahwa semua sudah berjalan sesuai jalurnya?
  • Kompetensi. Apakah kompetensi yang dimiliki tim telah merata atau cenderung didominasi oleh orang-orang tertentu dan yang lain hanya bekerja di belakang? Sebaiknya, setiap anggota memiliki kemampuan tertentu sehingga sebagai tim akan memiliki kekuatan yang lebih besar lagi. Perlu dilihat juga, apakah setelah Anda dan teman-teman menjadi satu tim, ada perkembangan kemampuan atau tidak? Jika tidak, mungkin Anda perlu mengajukan permohonan training pada bagian SDM.
  • Konsekuensi. Selalu pikirkan konsekuensi dari setiap tindakan terhadap diri sendiri, tim, dan juga perusahaan. Apakah keputusan yang Anda alami dapat berpengaruh pada teman-teman lainnya? Bagaimana jika tim Anda tidak berhasil memenuhi target yang diberikan? Selalu pikirkan hal ini dan bicarakan dengan rekan tim Anda.
  • Ekspektasi. Setiap anggota perlu memahami mengapa mereka ditempatkan di dalam satu tim dan apa tujuannya. Apakah ini adalah tim tetap atau untuk suatu proyek saja? Apa misi dari pekerjaan yang Anda emban? Sejauh mana pembagian waktu dan peran masing-masing anggota tim, itu juga perlu selalu diingat.
  • Alur Kerja. Sejauh mana alur kerja yang dijalani sekarang sudah efektif dan memberikan hasil yang baik? Untuk memastikannya, perlu dilihat apakah Anda dan teman-teman sudah memahami peran dan tanggung jawab masing-masing, sesuai dengan peran dalam tim. Jika terjadi sesuatu secara mendadak yang mengganggu alur kerja, berdiskusilah bersama untuk mengantisipasinya. Jangan tunggu sampai terjadi masalah.
  • Reaksi. Sejalan dengan waktu, Anda dan tim dapat mengalami berbagai perubahan. Itu bisa datang dari anggota tim, interaksi dengan pihak luar, dan kebijakan perusahaan. Sejauh mana tim Anda dapat menghadapi perubahan ini? Hal ini perlu dibicarakan dengan serius bersama-sama.

OUTBOUND TRAINING, Team Building & Personal Development


Pelatihan Out Bound ini merupakan penyegaran jiwa bagi para peserta setelah sekian waktu bergelut dengan tugas-tugas rutinitas setiap hari. Peserta Out Bound Training akan mengalami refreshing 3 in 1, yaitu refreshing yang disertai dengan :

  • Berbagai games yang kreatif dan menyenangkan,
  • Point plus melalui debrief Value dari setiap games,
  • Motivasi dan kesatuan sebagai team.

Kebersamaan dalam program Pelatihan Out Bound ini akan memberi motivasi dan keharmonisan hubungan bagi setiap peserta, sehingga peserta akan kembali ke pekerjaan dengan suasana baru yang lebih antusias dan produktif.

Outbound Training team building ini akan menstimulasi setiap peserta dalam memiliki motivasi tinggi untuk membangun sebuah team. Peserta Outbound Training akan mendapat pemahaman bagaimana proses dan respon yang harus diambil dalam mewujudkan The Struggle Team. Melalui Out Bound Training team building ini peserta akan menyadari betapa dahsyat dan luar biasa kekuatan sebuah team yang solid dan antusias! Mereka akan memahami bahwa perbedaan yang menjadi potensi bagi munculnya suatu konflik, ternyata dapat dikelola dan diubah menjadi suatu sinergi aset kekayaan tim.

Salah satu penyelenggara kegiatan outbound training di Jawa Timur adalah RAYAENAM Training & Outing


TEAM WORK BUILDING


Dunia kerja memang penuh persaingan, namun dalam beberapa hal tetap dibutuhkan sebuah kerjasama yang baik di antara teman kerja. Membangun team work, kerjasama tim, tentu saja membutuhkan beberapa trik dan tip tersendiri. Sebuah cara yang mampu membuat Anda tetap jadi terdepan, namun sekaligus juga dihargai oleh teman-teman kerja Anda.

Kunci utama ketika membangun tim kerja adalah mendahulukan kepentingan tim yang berarti kepentingan perusahaan. Artinya ketika boss meminta Anda bekerja dalam satu kelompok, maka keberhasilan bersama ini adalah nilai utama di mata boss Anda. Namun jangan pernah mengabaikan juga tugas-tugas perorangan yang juga Anda emban. Membagi waktu antara tugas personal dengan pekerjaan tim membutuhkan kemampuan Anda yang cukup fleksibel.

Selain itu, untuk membangun tim kerja, Anda perlu secara aktif memberikan masukan dan ide-ide saat pekerjaan tim dimulai. Aktif memberikan kontribusi ide juga sangat penting dalam setiap rapat dan meeting dengan pimpinan. Tentu saja bukan sembarang ide, namun ide yang realistis dan Anda secara pribadi bisa menjalaninya. Jangan sampai Anda memberikan ide yang kemudian tidak bisa Anda jalani, bisa-bisa Anda akan dimasukan dalam kategori ”omdo” alias Omong Doang (pembual) oleh tim kerja Anda.

Bagi Anda yang memiliki naluri seorang pemimpin, leader, Anda akan sangat beruntung bila langsung ditunjuk sebagai pemimpin dalam tim. Namun bila tidak dalam posisi leader-pun, Anda tidak perlu berkecil hati. Karena Anda tetap bisa menjadi orang yang diperhitungkan ketika Anda mampu membuktikan bahwa fungsi Anda dalam tim juga sangat penting. Bukan sekadar pengikut tanpa memiliki ide dan kemampuan lebih.

Ketika tugas tim sudah berhasil diselesaikan dengan baik oleh tim Anda, maka sudah waktunya juga Anda menunjukkan kepiawaian tugas personal Anda. Jika dalam pengerjaan tugas tim Anda tidak perlu memaksakan diri tampil menonjol, maka untuk tugas perseorangan ini, Anda jangan malu-malu untuk menunjukkan kehebatan Anda pada boss.

Bila tenggat waktu yang disediakan untuk tugas personal masih lebih, Anda perlu sampaikan pada boss, disertai juga permintaan ijin pada boss, bisakah Anda membantu tugas personal teman lain, dan minta pada boss untuk menunjuk teman mana yang harus dibantu. Ini bukan berarti ”mencari muka” pada atasan, namun lebih memperlihatkan pada pimpinan bahwa kemampuan Anda terdepan di antara teman kerja.

Ringan tangan membantu teman lain dengan tulus biasanya akan sangat menguntungkan Anda yang bekerja dalam sebuah perusahaan kecil maupun menengah. Dalam banyak contoh kasus, seseorang cepat dan mudah mendapatkan promosi, apabila kepribadiannya yang positif bisa dilihat banyak pihak, tidak sekedar boss, namun juga rekan kerja. Kenaikan jenjang, promosi, maupun bonus yang Anda terima pun secara senang hati akan didukung oleh teman-teman Anda lainnya.

Sikap mau menolong teman kerja ini mendapatkan imbalan yang layak, dihargai boss sekaligus oleh teman yang Anda bantu. Dari sini lah Anda akan menjadi orang terdepan yang sebenarnya, tidak sekedar tampil sekadar nama saja.

Bekerja keras dalam tim dan tugas personal, serta tulus membantu rekan kerja adalah sebuah nilai lebih bagi pribadi Anda, yang barangkali tidak semua boss bisa langsung melihat, namun karakter pribadi Anda akan tumbuh berkembang dengan sehat.


TEAM BUILDING & DELEGATION


How and When to Empower People

By Susan M. Heathfield, About.com Guide

Employee involvement is creating an environment in which people have an impact on decisions and actions that affect their jobs. Employee involvement is not the goal nor is it a tool, as practiced in many organizations. Rather, it is a management and leadership philosophy about how people are most enabled to contribute to continuous improvement and the ongoing success of their work organization.

My bias, from working with people for 35+ years, is to involve people as much as possible in all aspects of work decisions and planning. This involvement increases ownership and commitment, retains your best employees, and fosters an environment in which people choose to be motivated and contributing. It is also important for team building.

How to involve employees in decisionmaking and continuous improvement activities is the strategic aspect of involvement and can include such methods as suggestion systems, manufacturing cells, work teams, continuous improvement meetings, Kaizen (continuous improvement) events, corrective action processes and periodic discussions with the supervisor.

Intrinsic to most employee involvement processes is training in team effectiveness, communication, and problem solving; the development of reward and recognition systems; and frequently, the sharing of gains made through employee involvement efforts.
Employee Involvement Model

For people and organizations that desire a model to apply, the best I have discovered was developed from work by Tannenbaum and Schmidt (1958) and Sadler (1970). They provide a continuum for leadership and involvement that includes an increasing role for employees and a decreasing role for supervisors in the decision process. The continuum includes this progression.

  • Tell: the supervisor makes the decision and announces it to staff. The supervisor provides complete direction. Tell is useful when communicating about safety issues, government regulations and for decisions that neither require nor ask for employee input.
  • Sell: the supervisor makes the decision and then attempts to gain commitment from staff by “selling” the positive aspects of the decision. Sell is useful when employee commitment is needed, but the decision is not open to employee influence.
  • Consult: the supervisor invites input into a decision while retaining authority to make the final decision herself. The key to a successful consultation is to inform employees, on the front end of the discussion, that their input is needed, but that the supervisor is retaining the authority to make the final decision. This is the level of involvement that can create employee dissatisfaction most readily when this is not clear to the people providing input.
  • Join: the supervisor invites employees to make the decision with the supervisor. The supervisor considers his voice equal in the decision process. The key to a successful join is when the supervisor truly builds consensus around a decision and is willing to keep her influence equal to that of the others providing input.

Adding to the Model

To round out the model, I add the following:

  • Delegate: the supervisor turns the decision over to another party. The key to successful delegation is to always build a feedback loop and a timeline into the process. The supervisor must also share any “preconceived picture” he has of the anticipated outcome of the process.

This article is an excerpt from the Michigan State University M.E.N.T.O.R.S. Manual: Monthly Conversation Guide #9