Pastikan Anda Ter-PUAS-kan !

Posts tagged “outbound

Outbound Training, Bermanfaatkah ?


OLYMPUS DIGITAL CAMERAAkhir-akhir ini, outbound training menjadi salah satu metode pelatihan yang palingboomingdi Indonesia. Banyak sekali manajemen perusahaan yang melirik dan menginvestasikan training karyawannya melalui outbound training atau kegiatan manajemen outbound training. Metode experential learning dalam bentuk outbound training yang satu ini mampu menghadirkan nuansa baru dengan kemasan berbeda dibanding training konvensional selama ini, hanya di dalam kelas, formal dan membosankan (kadang-kadang bikin ngantuk)
Bermain tapi bukan main-main. Fun tapi full learning point. Inilah unsur lebih manajemen outbound training yang ditawarkan. Belajar melalui proses mengalami sendiri (outbound training), berinteraksi secara intens sambil belajar dengan rekan sehari-hari dalam pekerjaan melalui simulasi game outbound yang dilakukan di alam terbuka, adalah pengalaman penuh makna.
Dalam tulisan kali ini, saya tidak akan menyoroti outbound training dari konsep dan konten secara mendetail. Namun lebih pada pandangan klien selama ini dan peta kebutuhan terhadap outbound training. Paling tidak, sejauh pengamatan dan pengalaman saya berinteraksi dengan para klien pengguna jasa outbound training ini, klien terbelah menjadi dua kubu. Pada dua kutub yang berbeda.
Kubu yang pertama melihat bahwa result outbound training tidak jelas. Ciri ungkapan maupun pertanyaan yang sering terlontar adalah apa manfaatnya outbound training?
Sejauh mana efektifitasnya? Kok paling banter perubahan yang terjadi paling lama bertahan 1 bulan saja, bahkan hanya 2-3 minggu? Padahal investasi yang telah dikeluarkan tidaklah kecil, mengingat outbound training ini biasanya diikuti oleh peserta yang relatif besar jumlahnya.
Sementara kubu yang lain melihat bahwa outbound training adalah sesuatu bentuk pembelajaran yang menarik dan positif. Outbound training atau manajemen outbound training training bagi mereka mampu menawarkan solusi untuk mengurai akar dari kekusutan ’benang kerjasama tim’ yang mulai koyak bahkan hampir putus. Sekali putus, berabe sekali efeknya,karena melibatkan banyak pihak yang saling mengait di dalamnya. Tak ayal klien tetap saja selalu mencari atau membutuhkan outbound training ini. Apalagi dimasa akhir tahun, outbound training sangat dicari meski kadang bermertamofosis menjadi outing (atau gathering perusahaan).
RAYAENAM Training & Outing Organizer sebagai salah satu penyedia jasa outbound, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kemajuan dan perkembangan perusahaan ataupun lembaga anda.

SEJARAH OUTBOUND


OLYMPUS DIGITAL CAMERAOutward Bound adalah ide pendidikan inovatif yang dikreasikan oleh Kurt Hahn yang telah bertahan dan berkembang selama lebih dari enam puluh tahun. Fakta Ini dapat dikatakan luar biasa karena begitu banyak metode pendidikan yang muncul dan tenggelam selama periode ini.

Apakah karena konsep ini sangat mudah beradaptasi dan dapat diterapkan pada dunia edukasi secara masal atau karena pemikiran dan filosofi dari konsep metode semacam outbound ini adalah abadi dan memiliki daya tarik universal? atau mungkin kedua faktor tersebutlah yang membuat metode ini menjadi populer dan terus berkembang.

Yang jelas sang penemu metode outward bound atau lebih dikenal outbound training , Kurt Hahn telah meninggal pada tahun 1974 tetapi pengaruhnya dalam Outward Bound dan inisiatif pendidikan lainnya masih hidup hingga saat ini. Beliau lebih menekankan tercapainya tujuan daripada melatih fokus, dengan menggunakan cara yg sangat fleksibel, beragam dan sangat adaptatif. Begitu pula dengan metode Outbound Training, dengan programnya yang boleh dikatakan “tidak lazim”

Kisah Sang Penemu Outbound

Kurt Hahn lahir di Jerman pada tahun 1896, putra seorang industrialis Yahudi kaya, tapi ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Inggris sebagai warga negara Inggris. Sementara ia masih di SMA tahun 1902, ia menghabiskan liburan musim panas di Dolomites dengan teman-teman dari Abbotsholme, sebuah sekolah negeri Inggris. Selama rentang perjalanan ini, dalam sebuah diskusi tentang sistem sekolah umum Inggris, ketertarikan mengenai dunia pendidikan pertama kali masuk ke dalam benak Hahn. Hal ini menyebabkan ia menjadi terobsesi, kemudian ia mulai mendalami filsafat pendidikan dan sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Plato, Baden Powell, Cecil Reddie, Dr Arnold dari Rugby, Herman Lietz dan lain-lain.

Pada tahun 1904, saat ia masih muda, Hahn terkena “sunstroke” yang cukup parah sehingga membuatnya cacat permanen namun disinilah ia merasakan ketegaran karena ia memiliki semangat dan keberanian untuk bertahan hidup yang sangat tinggi. proses pemulihan diri ini dimanfaatkannya untuk mempelajari filsafat pendidikan secara lebih mendalam dan merumuskan sistem pendidikan yang hingga saat ini menjadi sangat populer.

Salah satu prinsip hidupnya yang ia pegang teguh sejak saat itu adalah, “ketidakmampuan Anda adalah Peluang Anda”, yaitu mengubah Tantangan menjadi Keuntungan, dengan cara selalu melakukan hal yang benar, terbaik dan bermanfaat meskipun dalam keadaan yang dirasakan sangat sesulit apapun.

Filsafat pendidikan Hahn adalah perpaduan dari apa yang dianggap sebagai ide terbaik yang diambil dari berbagai sumber. Menurutnya, pendidikan adalah seperti pengobatan, metode pengobatan yang ada pada saat ini adalah hasil penemuan dan penyempurnaan dari metode metode terdahulu, jika anda datang ke seorang ahli bedah umum dan meminta untuk membedah usus anda dengan cara yang terbaik dan benar, pasti dokter ahli bedah umum tersebut akan menyarankan anda untuk datang ke ahli bedah yang lebih ahli mengenai usus.

Jadi menurut Hahn, tidak ada yang istimewa dan baru dari metode “temuannya”, karena menurut Hahn, ia hanyalah mengumpulkan, merumuskan kemudian mengemasnya dengan cara yang dianggapnya paling sesuai dengan pengalaman atau proses hidupnya pada masa itu. Beliau menganggap, lebih baik meminjam sebuah ide atau metode yang sudah teruji dan terbukti ketimbang harus mencari dan berkesperimen dengan metode baru.

Kunci keberhasilan Hahn adalah, ia berhasil merangkum, mengambil dan menggabungkan ide dan metode terbaik dari tiap pakar pendidikan di dunia, menjadi suatu metode edukasi yang sangat unik.

Hahn memiliki keyakinan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan potensi dan kekuatan spiritual serta kemampuan untuk membuat penilaian yang benar mengenai nilai hidup dan moral.

Dalam perkembangan hidupnya, seseorang itu kehilangan kekuatan spiritual ini dan kemampuan untuk membuat penilaian moral karena, apa yang Hahn sebut, diseased society dan the impulses of adolescence.

Oleh karena itu, Hahn terobsesi oleh dekadensi moral atau penyakit sosial yang dia amati di masyarakat, dan sangat tergerak untuk mencari solusinya, beberapa “penyakit” tersebut misalnya seperti :

* Penurunan tingkat kebugaran karena adanya sarana transportasi modern, pada saat itu lokomotif atau mesin
* Penurunan memori dan imajinasi karena bingung, waswas, stress, gelisah akibat dampak dari modernisasi
* Penurunan tingkat keterampilan dan perhatian karena melemahnya tradisi dan budaya yang positif serta keahlian
* Penurunan disiplin diri karena ketergantungan pada obat-obat perangsang dan obat penenang
* Penurunan rasa cinta dan kasih sayang antar sesama karena masing masing sibuk dan egois dengan gaya hidup modernnya

Sebagai bagian dari perhatiannya terhadap kekuatan dan kemampuan fisik adalah, ia percaya bahwa setiap manusia memiliki bakat kemampuan fisik, baik bakat fisik alamiah maupun ketidakmampuan fisik alamiah, misalnya seperti cacat fisik.

Keduanya memiliki kelebihan dan memberikan kesempatan: satu untuk mengembangkan kekuatan dan yang lainnya untuk mengatasi kelemahan. Inilah yang menjadi prinsip atau pegangan Hahn’s berikutnya yaitu,

“Ada banyak kelebihan pada diri anda daripada yang anda pikirkan dan bayangkan.”

Tujuan Hahn adalah untuk menyediakan wahana ideal untuk mengaktifkan kesadaran dan potensi kekuatan tersebut, sehingga setiap orang dapat menemukan kesempurnaan jati diri manusianya dan salah satu wahana yang ia buat adalah Outward Bound atau lebih populer di Indonesia dengan istilah Outbound Training.

*dirangkum dari berbagai sumber

Banyak cara menjadi pintar. Satu yang paling klasik dan kita kenal adalah belajar serius melalui sekolah formal. Pilihan ini memang yang paling populer sejak jaman tempo kala. Itu terbukti dari banyaknya lahir orang pintar dengan beragam gelar. Ironisnya, dunia usaha dan lapangan kerja saat ini, ternyata tak cukup direbut hanya dengan berbekal label ‘smart’ secara formal, tapi juga harus dengan sederet ‘kemampuan’ tambahan seperti kemampuan berbahasa atau keterampilan lainnya. Artinya dunia usaha kini, apapun bidangnya, menuntut orang tak lagi hanya sekadar pandai secara intelektual, tapi juga memiliki skill (keterampilan yang mampu untuk melakukan pekerjaan tertentu.

Tuntutan itu, mau tak mau, menuntut dunia pendidikan kini harus merancang dan mengembangkan program pendidikan yang lebih kompromis terhadap tuntutan pasar tenaga kerja. Salah satu pendekatan yang coba mereka lakukan adalah mendesain program Eperiential Learning (belajar dari pengalaman).

Di banyak negara maju, sebut saja Amerika dan Eropa, model program Experiential Learning makin banyak ditawarkan berbagai universitas sebagai sebuah alternatif belajar. Sebagian dari universitas itu menyebut program ini sebagai model belajar cooperative. Tapi apapun istilahnya, prinsipnya model pendidikan itu memungkinkan setiap orang yang belajar bisa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang studi yang digelutinya. Dalam beberapa hal, cara ini dianggap lebih mudah dan memungkinkan setiap orang yang belajar dengan cara ini, bisa memahami secara utuh semua aspek menyangkut dunia yang akan menjadi pilihan karirnya nanti.

Konsep Experiential Learning, ini sesungguhnya relatif sederhana. Mereka mencoba mengkombinasikan model belajar-mengajar sekolah formal yang selami ini lebih banyak dilakukan didalam kelas, dengan belajar diluar kelas. Material pendidikan di luar kelas itulah yang diorientasikan untuk memberikan pengalaman pada siswa sesuai dengan bidang studi yang di tekuninya.

Menurut sejarahnya, program Experiential Learning awalnya dikembangkan di sekolah-sekolah kejuruan, seperti bisnis, teknologi atau pendidikan. sekolah-sekolah ini umumnya memang memprogramkan materi khusus bagi siswa mereka untuk bisa mendapatkan pengalaman bekerja dilingkungan yang sesuai dengan bidang studi yang mereka tekuni atau dalam istilah kita disebut kerja praktek atau magang.

Secara umum, sudah sejak lama sebetulnya banyak pendapat yang menyebut bahwa model belajar formal yang dilakukan di dalam kelas,  relatif tidak cukup memberikan bekal bagi siswa pada saat mereka harus bekerja. Dengan kata lain, ilmu yang digali di dalam kelas, tidak bisa berfungsi secara sistematis di dunia nyata. Dan karenanya muncul kebutuhan akan sebuah program belajar secara sistematis bisa menjembati 2 (dua) kebutuhan tadi. Maka lahirlah sebuah pendekatan yang disebut sebagai  Experiential Learning itu.

Makin hari, pendekatan Experiential Learning ini, makin banyak diminati. Sehingga mau tak mau, peningkatan minat siswa atau mahasiswa untuk mengambil program Experiential Learning itu, mendorong kalangan dunia pendidikan juga mengembangkan program serupa. Bahkan belakangan, banyak sekolah lanjutan atas (SMU) di AS, kini juga sibuk mengembangkan program yang secara mendasar bisa memberikan siswa lebih banyak kesempatan untuk menyerap materi pendidikan secara konseptual dan empirik sekaligus.

Panduan antara pemahaman konseptual dan pratikal itulah yang terus dikembangkan menjadi sebuah program Experiential Learning di segala lapisan pendidikan. Tidak hanya bisa dikembangkan untuk mereka yang sudah duduk di tingkat pendidikan tinggi, tapi juga mereka yang masih duduk di tingkat pendidikan lanjutan dan dasar. Bahkan mereka yang mungkin sudah melewati pendidikan tinggi namun masih ingin menambah dan mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya.

 


EXPERIENTIAL LEARNING CONCEPT


Banyak cara menjadi pintar. Satu yang paling klasik dan kita kenal adalah belajar serius melalui sekolah formal. Pilihan ini memang yang paling populer sejak jaman tempo kala. Itu terbukti dari banyaknya lahir orang pintar dengan beragam gelar. Ironisnya, dunia usaha dan lapangan kerja saat ini, ternyata tak cukup direbut hanya dengan berbekal label ‘smart’ secara formal, tapi juga harus dengan sederet ‘kemampuan’ tambahan seperti kemampuan berbahasa atau keterampilan lainnya. Artinya dunia usaha kini, apapun bidangnya, menuntut orang tak lagi hanya sekadar pandai secara intelektual, tapi juga memiliki skill (keterampilan yang mampu untuk melakukan pekerjaan tertentu.

Tuntutan itu, mau tak mau, menuntut dunia pendidikan kini harus merancang dan mengembangkan program pendidikan yang lebih kompromis terhadap tuntutan pasar tenaga kerja. Salah satu pendekatan yang coba mereka lakukan adalah mendesain program Eperiential Learning (belajar dari pengalaman).

Di banyak negara maju, sebut saja Amerika dan Eropa, model program Experiential Learning makin banyak ditawarkan berbagai universitas sebagai sebuah alternatif belajar. Sebagian dari universitas itu menyebut program ini sebagai model belajar cooperative. Tapi apapun istilahnya, prinsipnya model pendidikan itu memungkinkan setiap orang yang belajar bisa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang studi yang digelutinya. Dalam beberapa hal, cara ini dianggap lebih mudah dan memungkinkan setiap orang yang belajar dengan cara ini, bisa memahami secara utuh semua aspek menyangkut dunia yang akan menjadi pilihan karirnya nanti.

Konsep Experiential Learning, ini sesungguhnya relatif sederhana. Mereka mencoba mengkombinasikan model belajar-mengajar sekolah formal yang selami ini lebih banyak dilakukan didalam kelas, dengan belajar diluar kelas. Material pendidikan di luar kelas itulah yang diorientasikan untuk memberikan pengalaman pada siswa sesuai dengan bidang studi yang di tekuninya.

Menurut sejarahnya, program Experiential Learning awalnya dikembangkan di sekolah-sekolah kejuruan, seperti bisnis, teknologi atau pendidikan. sekolah-sekolah ini umumnya memang memprogramkan materi khusus bagi siswa mereka untuk bisa mendapatkan pengalaman bekerja dilingkungan yang sesuai dengan bidang studi yang mereka tekuni atau dalam istilah kita disebut kerja praktek atau magang.

Secara umum, sudah sejak lama sebetulnya banyak pendapat yang menyebut bahwa model belajar formal yang dilakukan di dalam kelas,  relatif tidak cukup memberikan bekal bagi siswa pada saat mereka harus bekerja. Dengan kata lain, ilmu yang digali di dalam kelas, tidak bisa berfungsi secara sistematis di dunia nyata. Dan karenanya muncul kebutuhan akan sebuah program belajar secara sistematis bisa menjembati 2 (dua) kebutuhan tadi. Maka lahirlah sebuah pendekatan yang disebut sebagai  Experiential Learning itu.

Makin hari, pendekatan Experiential Learning ini, makin banyak diminati. Sehingga mau tak mau, peningkatan minat siswa atau mahasiswa untuk mengambil program Experiential Learning itu, mendorong kalangan dunia pendidikan juga mengembangkan program serupa. Bahkan belakangan, banyak sekolah lanjutan atas (SMU) di AS, kini juga sibuk mengembangkan program yang secara mendasar bisa memberikan siswa lebih banyak kesempatan untuk menyerap materi pendidikan secara konseptual dan empirik sekaligus.

Panduan antara pemahaman konseptual dan pratikal itulah yang terus dikembangkan menjadi sebuah program Experiential Learning di segala lapisan pendidikan. Tidak hanya bisa dikembangkan untuk mereka yang sudah duduk di tingkat pendidikan tinggi, tapi juga mereka yang masih duduk di tingkat pendidikan lanjutan dan dasar. Bahkan mereka yang mungkin sudah melewati pendidikan tinggi namun masih ingin menambah dan mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya.


OUTBOUND TRAINING ADALAH…..


Punya kegemaran jalan-jalan ke alam bebas ? Bersyukurlah jika Anda merupakan orang yang punya hobi asyik ini. Bersahabat dengan alam ternyata dapat menjadi tes psikologi yang ampuh bagi seseorang. Dewasa ini, kegiatan belajar bersama alam terbuka marak ditawarkan. Pergilah keluar rumah, ke alam terbuka. Rasakan bagaimana ketika kita berinteraksi baik dengan alam sekitar maupun sesama manusia, kita bisa mengambil banyak pengalamandan pelajaran berharga. Sebuah Pengalaman yang akan diterapkan sebagai konsep belajar dan membuka diri sendiri. Konsep inilah yang dianggap sanggup untuk merangsang banyak aktivitas kita sehari-hari.

Belakangan bila Anda jeli, ternyata tidak hanya dunia pendidikan saja yang mencoba untuk menggunakannya dalam kurikulum pembelajarannya, tapi juga banyak perusahaan yang tertarik untuk mencicipi program belajar ke alam terbuka. Meningkatnya permintaan akan model pelatihan ini berakibat banyak bermunculan operator outbound baru. Lambat laun karena tidak semua operator mengerti dan paham secara jelas mengenai outbound training akhirnya masyarakat awam terlanjur rancu dengan istilah outbound training. Banyak penyedia jasa maupun pengguna jasa berbasis aktivitas tali-temali (ropes course) menyebut kegiatannya sebagai outbound training. Sementara itu, banyak pula yang menyebut kegiatan rekreasi (outing) dengan outbound, hanya karena beberapa jenis permainan yang biasa digunakan dalam pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based) dimainkan pada acara itu. Di lain pihak, ada yang menyebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka sebagai outbound training.

Apa yang dimaksud Outbound Training ? Tentu kita pernah mendengar kata ‘Outbound Training‘ tapi tidak banyak diantara kita yang tahu apa itu outbound training. Secara mudah outbound training dapat diartikan sebagai salah satu metode pelatihan yang menggunakan alam sebagai media pembelajarannya.

Apa yang disebut sebagai outbound training oleh mereka yang menggunakan alam terbuka sebagai media belajar, sebenarnya lebih tepat jika disebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based training) dengan mengedepankan pendekatan belajar dari pengalaman (experiential learning).

Uraian yang disampaikan Wien tadi disetujui oleh Handriatno Waseso dari RAKATA—salah satu operator pelatihan di alam terbuka. Katanya, dalam literatur belajar dari pengalaman tak pernah dikenal istilah outbound training. ”Yang ada itu, outdoor based training. Mungkin salah kaprah ini karena operator pertama yang memasarkan pelatihan model ini di Indonesia adalah Outward Bound Indonesia (OBI). Karena keseringan disebut akhirnya keluar istilah outbound training,” tutur Handriatno mencoba meraba awal mula salah kaprah tadi.

Outbound training merupakan jenis latihan di alam terbuka (outdoor) untuk pengembangan diri (self development) yang disimulasi melalui permainan-permainan edukatif (educative game) baik secara individual maupun kelompok dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, berpikir kreatif, rasa kebersamaan, tanggung jawab, komunikasi, rasa saling percaya, dll. Training dalam Outbound dapat diikuti oleh semua kalangan dan semua usia dari anak-anak sampai dewasa. Setiap game outbound mempunyai tujuan-tujuan yang disesuaikan seperti : team building, communication skills, problem solving motivating, challages, dll

Secara singkat, Claxton (1987) mengemukakan bahwa yang disebut experiential learning (EL) adalah proses belajar di mana subjek melakukan sesuatu—bukan hanya memikirkan sesuatu. Ditinjau dari pengertian ini, maka apa yang dilakukan peserta belajar, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas, dapat disebut sebagai EL.

Pepatah mengatakan bahwa ”pengalaman adalah guru yang paling baik”. Makna yang sama telah dikemukakan oleh Confucius beberapa abad lalu. Dia mengatakan bahwa: ”aku melakukan, maka aku memahami”.

Lebih jauh Wien memaparkan bahwa kegiatan EL itu tak terbatas belajar di alam terbuka. ”Cakupannya bisa dari bercocok tanam sampai ke conflict resolution. Dari assessment (psikologis) sampai ke perkembangan remaja. Dari skill training sampai ke model-model teori.” Malahan sebagian besar orang menyebut bahwa semua jenis pendidikan adalah EL.
Yah… memang dengan banyak bermunculannya pendapat dari banyak orang mengenai apa itu sebenarnya Outbound Training. Agar tidak terjadi kesimpang siuran mengenai informasi ini ,maka ada baiknya disimak apa itu pengertian Outbound Training dari seorang pakar Psikologi yang lebih sering dikenal sebagai “Professor” Outboundnya Indonesia yaitu Prof. Dr. Djamaludin Ancok menurut beliau outbound training adalah ; salah satu bentuk kegiatan yang paling efektif untuk meningkatkan motivasi dan kreativitas adalah pembentukan kerja sama tim yang dilakukan melalui outbond training di alam terbuka.

Namun terlepas dari semua perbedaan pola pikir kita mengenai metode pelatihan ini, kita sepenuhnya sadar sedikit banyak metode outbound training telah merubah banyak karakter anak bangsa ini. Semua kembali ke kita masing2 akan mengartikan apa outbound training ini, yang penting porses membangun karakter anak bangsa ini dengan metode outbound training jangan sampai berhenti


PERBEDAAN OUTBOUND TRAINING DAN OUTING EVENT


Pada umumnya setiap orang menganggap bahwa permainan/kegiatan dengan tujuan penyegaran yang lakukan diluar ruangan itu disebut outbound, sebenarnya itu beda antara Outbound dan outing. lebih jelasnya kita bahas satu persatu dahulu.

Outbound

Pengertian outbound sebenarnya adalah setiap permainan/kegiatan yang dapat memberi perubahan karakter menjadi lebih baik/positif. misalnya untuk meningkatkan kualitas kerja karyawan, pabrik atau instansi melaksanakan outbound untuk karyawanya dengan tujuan untuk meningkatkan daya kreatifitas, jiwa kepemimpinan, kerjasama tim, ketelitian, kedisiplinan dan lain-lain. Sekarang banyak penyedia layanan/operator outbound. Pada pelaksanaan outbound games harus ada nilai utama (main set) yang harus dicapai misalnya karyawan pabrik tidak tetip waktu , maka goalnya outbound ini pada Kedisiplinan dan nilai yang lainya sebagai nilai pendukung dan harus relevan (saling berkaitan).

Outing
Pengertian outing hampir sama dengan outbound games, namun pada intinya adalah untuk penyegaran ayau refreshing, tanpa ada maksud untuk merubah karakter. 100% rekreasi. Pelaksanaan outbound game dan outing itu sama apaun jenis permainanya bagaimanapun cara melakukanya, hanya yang membedakan adalah pada setting utama (main set)-nya. Lokasi outbound biasanya disetting semaksimal mungkin sesuai dengan tujuan kegiatan.

Jenis permainan
Permainan dalam Outbound game atau outing di bagi dalam beberapa jenis, antara lain:

  • Game strategy
  • Game brain
  • Fun game
  • Ice breaking

ALASAN MENGAPA PERUSAHAAN PERLU OUTBOUND TRAINING


Pelatihan di alam terbuka akhir-akhir ini semakin populer di kalangan praktisi pelatihan SDM. Banyak perusahaan besar, maupun perusahaan kecil memanfaatkan metode Outbound Management Training di dalam pengembangan Sumber Daya Manusia.
Apa sebab metode ini sangat populer?
Jawabannya tak lain karena metode outbound sangat efektif dalam membangun pemahaman terhadap suatu konsep dan membangun perilaku.
Berikut beberapa alasan kenapa metode Outbound Training dipakai. Diantaranya sebagai berikut:
  1. Metode ini adalah sebuah simulasi kehidupan yang kompleks menjadi sederhana. Manusia pada dasarnya dapat memahami kehidupan ini dari alam semesta. Alam semesta adalah sumber kearifan, dan tempat belajar bagi semua orang. Itulah sebabnya Tuhan diberbagai kitab suci menyuruh manusia untuk membaca makna yang ada di dalam alam semesta. Bagaimana burung terbang bersama, dan bagaimana lebah dan semut berbagi tugas telah menjadikan banyak inspirasi bagi pakar managemen. Kehidupan dalam organisasi perusahaan yang sangat kompleks sebenarnya dapat disimulasikan kedalam suatu bentuk kegiatan yang sederhana. Permainan Outbound Training adalah cara untuk menggambarkan kehidupan yang kompleks dengan cara sederhana melalui penggunaan sebuah metafora. Permainan yang ditampilkan dalam Outbound Training adalah metafora dalam kehidupan kompleks tersebut.
  2. Metode ini menggunakan pendekatan metode belajar melalui pengalaman (experiental learning). Outbound Training menggunakan cara yang memberikan sebuah pengalam langsung kepada peserta pelatihan. Suatu kehidupan organinasi disimulasikan dalam sebuah kegiatan yang dapat dirasakan langsung oleh peserta program pelatihan outbound. Peserta langsung merasakan sukses dan gagal dalam sebuah kegiatan Outbound Training. Kalau sukses, peserta akan tahu, prilaku apa yang membuat mereka sukses. Kalau gagal, mereka juga akan segera tahu, prilaku mana yang menyebabkan kegagalan tersebut. Pendekatan Outbound Traning memudahkan pemahaman tentang konsep manajemen
  3. Metode ini penuh kegembiraan karena dilakukan dengan permainan. Kegiatan pelatihan Outbound Training banyak sekali menggunakan aktifitas yang mirip permainan yang biasa dilakukan anak-anak. Permainan biasanya disukai hampir setiap orang, sehingga sangat menyenangkan dan semua peserta pelatihan bisa lepas dalam kegiatan outbound. Dari pengalaman di dalam menyelenggarakan outbound, dijumpai keterangsangan emosi dan kegembiraan pada diri peserta pelatihan Outbound Training.

Apakah anda siap dengan itu semua..?!…jika anda termasuk individu yang masih ingin berkembang untuk masa yang akan datang, segera hubungi kami untuk informasi mengenai program-program


LOKASI WISATA ARUNG JERAM SUNGAI PEKALEN PROBOLINGGO


Songa Rafting Probolinggo Surga Bagi Penggemar  Arung Jeram Di Indonesia

ARUNG JERAM SUNGAI PEKALEN

Sungai Pekalen Atas ini masih sama terletak di desa Ranu Gedang, kecamatan Tiris, kabupaten Probolinggi, propinsi Jawa Timur. Dinamakan desa Ranu Gedang, karena di desa ini banyak terdapat pohon pisang (dalam bahasa jawa pisang disebut Gedang). Pekalen Atas memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi untuk berarung jeram dibandingkan dengan Pekalen Bawah. Bersumber dari mata air Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan dengan lebar sungai rata-rata 5-20 meter dan kedalaman air kurang lebih 1-3 meter.

Jarak pengarungan dari Start-Finish kurang lebih 12 kilometer yang ditempuh selama 3,5 jam. Jumlah jeram sekitar 50 buah seperti Welcome, Batu Jenggot, Pandawa, Rajawali, Xtravaganza, KPLA, Tripple Ace, The Fly Matador, Hiu, Cucak Rowo, Long Rapid, Good Bye. Ada pula Jeram Inul, disebut demikian karena untuk melewati jeram itu, setiap peserta harus “bergoyang bak Inul”. Tingkat kesulitan arung jeram disini yaitu grade II sampai III+.

Untuk menemukan lokasi basecamp dari Songa tidaklah begitu sulit karena dari jalan raya Probolinggo tinggal melihat papan petunjuk besar yang terletak di pinggir jalan. Dari jalan raya ini harus menempuh jarak sekitar 15 km untuk sampai ke basecamp. Sayangnya kondisi jalan menuju kesana tidak begitu bagus, sehingga mau tidak mau memaksa para pengunjung terlebih dahulu harus berarung jeram melawati jalan akses yang berlubang-lubang. Perjalanan dari jalan raya sampai ke basecamp Noars ini memakan waktu sekitar 1 jam.

Tiba di base camp, peserta akan dipersilahkan dulu beristirahat sejenak sambil disuguhi makanan kecil berupa pisang rebus dan minuman yang dinamakan Poka, yang terbuat dari teh dicampur jahe, keningar dan kayu manis. Diberi kesempatan juga untuk berganti pakaian dengan pakaian yang memang siap untuk basah karena pasti akan terciprat derasnya air sungai. Para penikmat wisata arung jeram dilengkapi pelindung keselamatan seperti helm dan jaket pelampung, serta dipandu oleh seorang guide yang telah terlatih dan berpengalaman. Perahu karet yang dipakai adalah jenis inflatable raft yang memang diperuntukkan untuk melewati jeram dengan aman karena berisi udara yang dapat meredam benturan antara badan perahu dengan bebatuan jeram.

Untuk menuju ke lokasi, peserta akan dinaikkan mobil pick-up terbuka. Dengan posisi berdiri dapat menampung sekitar 12 orang dan harus berpegengan erat di pegangan pinggir mobil karena jalan yang dilalui lumayan menanjak naik turun. Sayangnya sesudah turun dari mobil, peserta masih harus menyusuri jalan setapak yang lumayan jauh dan curam, sehingga stamina banyak terkuras disini. Malahan dapat dikatakan capeknya disini bukan karena arung jeramnya tetapi karena jalannya ini. Mungkin ini yang perlu diperhatikan pihak operator.

Start point dari arung jeram ini berada di dusun Angin-angin, Desa Ranu Gedang. Di tengah-tengah perjalanan akan berhenti di Rest Area Kedung Adem-adem dimana peserta sekali lagi akan dijamu dengan minuman Poka, STMJ dan sajian pisang goreng. Sungguh pas dinikmati di tengah dinginnya deburan air sungai Pekalen. Finish point-nya terletak di Dusun Gembleng, Desa Pesawahan.

Selama perjalanan peserta akan disuguhi indahnya 7 air terjun (diantaranya bernama Air Terjun Angin-angin), goa-goa kelelawar dan struktur batuan alami. Sungguh menakjubkan air terjun yang ada disana. Masih begitu alami dan airnya masih begitu jernih dan segar. apalagi oleh guide-nya, peserta sengaja diberhentikan tepat di bawah derasnya guyuran air terjun. Dijamin semua peserta akan langsung dapat merasakan segar dan derasnya guyuran air terjunnya. Goa kelelawarnya pun masih begitu lengkap dengan ratusan kelelawar yang sekali-kali memekik dan beterbangan kesana-kemari. Bau anyir dari kelelawar dan kotorannya begitu terasa ketika melewati sana. Terdapat pula tempat untuk terjun bebas dari ketinggian sekitar 5 meter. Tempat yang pas untuk melepaskan ketegangan.

Berarung jeram disini memang begitu menyenangkan. Dijamin rasa penat dan capek pun hilang begitu melihat keindahan dan merasakan serunya ber-arung jeram di sini. Suasananya pun begitu tenang sehingga membuat kita tidak habis-habis mengagumi ciptaan Tuhan ini. Jalur setelah Finish Point belum dibuka karena terlalu terjal, sempit dan berbatu sehingga tidak dapat dilalui oleh perahu. Tim Noars sudah mencoba jalur tersebut tapi masih dirasakan terlalu berbahaya untuk pemula jadi belum bisa dijadikan rute umum.

Untuk kembali ke basecamp peserta kembali harus menyusuri jalan setapak dan dinaikkan lagi ke mobil pickup. Sesampainya di basecamp peserta dapat segera membersihkan badan dan berganti pakaian. Sesudah itu semua, sajian yang menggoda selera siap menggoda. Tempe, tahu dan ikan penyet, urap-urap dan lodeh siap mengenyangkan perut para peserta yang energinya begitu terkuras setelah berarung jeram.

Ingin mencoba!!!!!

Silahkan Hubungi :

Contact Person : Mas Bagus

Direct Line : (031) 71453654, 081357225708, 0817585446

Atau kunjungi SONGAdventure