Pastikan Anda Ter-PUAS-kan !

Corporate

RAFTING PACET MOJOKERTO


pacet view4Kini telah hadir pendatang baru dalam dunia wisata rafting di Jawa Timur, yaitu di Sungai Kromong, Pacet – Mojokerto.

Dan ber – Basecamp di Kawasan wisata alam Bandulan, Pacet – Mojokerto, telah dilengkapi camping ground area lengkap dengan perlngkapan tenda, kamar ganti/kamar mandi yang representatif, pendopo, serta outbound area lengkap dengan fasilitas wahana outbound untuk orang dewasa maupun anak-anak.

Selain itu beberapa program kegiatan yang di tawarkan sebagian besar berbasis pada alam bebas, dan sangat cocok bagi anada yang ingin mendapatkan pengalaman di alam liar sekitar Pacet, Mojokerto.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi :
Hotline : (031) 71453654, 0817585446, 081357225708, 081515512808

Iklan

Outbound Training, Bermanfaatkah ?


OLYMPUS DIGITAL CAMERAAkhir-akhir ini, outbound training menjadi salah satu metode pelatihan yang palingboomingdi Indonesia. Banyak sekali manajemen perusahaan yang melirik dan menginvestasikan training karyawannya melalui outbound training atau kegiatan manajemen outbound training. Metode experential learning dalam bentuk outbound training yang satu ini mampu menghadirkan nuansa baru dengan kemasan berbeda dibanding training konvensional selama ini, hanya di dalam kelas, formal dan membosankan (kadang-kadang bikin ngantuk)
Bermain tapi bukan main-main. Fun tapi full learning point. Inilah unsur lebih manajemen outbound training yang ditawarkan. Belajar melalui proses mengalami sendiri (outbound training), berinteraksi secara intens sambil belajar dengan rekan sehari-hari dalam pekerjaan melalui simulasi game outbound yang dilakukan di alam terbuka, adalah pengalaman penuh makna.
Dalam tulisan kali ini, saya tidak akan menyoroti outbound training dari konsep dan konten secara mendetail. Namun lebih pada pandangan klien selama ini dan peta kebutuhan terhadap outbound training. Paling tidak, sejauh pengamatan dan pengalaman saya berinteraksi dengan para klien pengguna jasa outbound training ini, klien terbelah menjadi dua kubu. Pada dua kutub yang berbeda.
Kubu yang pertama melihat bahwa result outbound training tidak jelas. Ciri ungkapan maupun pertanyaan yang sering terlontar adalah apa manfaatnya outbound training?
Sejauh mana efektifitasnya? Kok paling banter perubahan yang terjadi paling lama bertahan 1 bulan saja, bahkan hanya 2-3 minggu? Padahal investasi yang telah dikeluarkan tidaklah kecil, mengingat outbound training ini biasanya diikuti oleh peserta yang relatif besar jumlahnya.
Sementara kubu yang lain melihat bahwa outbound training adalah sesuatu bentuk pembelajaran yang menarik dan positif. Outbound training atau manajemen outbound training training bagi mereka mampu menawarkan solusi untuk mengurai akar dari kekusutan ’benang kerjasama tim’ yang mulai koyak bahkan hampir putus. Sekali putus, berabe sekali efeknya,karena melibatkan banyak pihak yang saling mengait di dalamnya. Tak ayal klien tetap saja selalu mencari atau membutuhkan outbound training ini. Apalagi dimasa akhir tahun, outbound training sangat dicari meski kadang bermertamofosis menjadi outing (atau gathering perusahaan).
RAYAENAM Training & Outing Organizer sebagai salah satu penyedia jasa outbound, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kemajuan dan perkembangan perusahaan ataupun lembaga anda.

Ingin Rafting? Perhatikan 7 Hal Ini!


Saat ini olahraga pemicu adrenalin, seperti arung jeram atau rafting tengah marak di kalangan masyarakat. Agar rafting terasa aman dan menyenangkan, sebaiknya Anda memperhatikan 7 hal yang harus dilakukan sebelum memulainya.

Olahraga ekstrem yang memicu adrenalin sangat digemari masyarakat dan dipilih sebagai wisata berakhir pekan. Di samping menarik, wisata ini dianggap bisa melepas kepenatan setelah lima hari bekerja.

1. Cari tahu tentang sungai

Sebelum pergi ke lokasi rafting, cari tahu dulu informasi mengenai sungai yang akan Anda lalui. Informasi yang dicari bisa berupa deras arus, panjang sungai yang akan dilalui, jenis bebatuan dan zona-zona ekstrem. Ini akan membantu Anda untuk mengetahui medan yang akan dihadapi.

2. Makanlah 2-3 jam sebelum rafting

Hal lain yang perlu diperhatikan sebelum rafting adalah mengisi perut. Rafting adalah olahraga yang akan menghabiskan banyak tenaga. Jadi, jika tidak ingin kehabisan tenaga, makanlah terlebih dahulu. Tapi ingat, jangan makan tepat sebelum memulai rafting karena bisa menyebabkan Anda mual-mual bahkan muntah. Makanlah 2 atau 3 jam sebelum memulai.

3. Lakukan Pemanasan

Selama rafting, akan ada banyak hal terjadi. Anda bisa saja diharuskan lompat atau berenang tiba-tiba. Agar tidak terjadi cedera otot, lakukanlah pemanasan 10-15 menit sebelum memulai rafting. Ini penting untuk melenturkan otot.

4. Perhatikan fasil
itas yang ada

Selain pemanasan, Anda harus memerhatikan dengan benar kelengkapan yang digunakan. Contoh penglengkapan standar yang harus Anda kenakan adalah helm dan pelampung. Pastikan juga helm terpasang dengan baik. Jangan sampai terlepas ketika Anda mengarungi derasnya sungai.

5. Dengarkan instruksi dengan benar

Nah, ini dia yang paling penting, dengarkan instruksi pemandu sebelum berarung jeram. Perhatikan hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Jangan sampai Anda kebingungan ketika berada di tengah-tengah sungai yang berarus deras.

6. Jangan panik bila perahu terbalik

Kejadian yang paling sering terjadi ketika berarung jeram adalah perahu karet yang digunakan terbalik. Jika Anda mengalami ini, jangan keburu panik. Tenanglah karena pelampung yang dikenakan akan membuat Anda mengapung. Selain itu, sikap panik yang dikeluarkan malah bisa membuat Anda terbawa arus. Berbahaya bukan?

7. Gunakan pemandu yang terpercaya

Setiap kegiatan arung jeram biasanya menggunakan paket yang disediakan agen tertentu. Nah, pastikan agen yang digunakan adalah agen profesional dan telah Anda ketahui kualitas kerjanya. Jika ada warga lokal yang menawarkan paket arung jeram, sebaiknya Anda tetap menggunakan paket resmi atau agen yang telah dipercaya. Ini berhubungan dengan kenyamanan dan keselamatan selama kegiatan arung jeram berlangsung.

 

Sumber : Detik.com


SEJARAH OUTBOUND


OLYMPUS DIGITAL CAMERAOutward Bound adalah ide pendidikan inovatif yang dikreasikan oleh Kurt Hahn yang telah bertahan dan berkembang selama lebih dari enam puluh tahun. Fakta Ini dapat dikatakan luar biasa karena begitu banyak metode pendidikan yang muncul dan tenggelam selama periode ini.

Apakah karena konsep ini sangat mudah beradaptasi dan dapat diterapkan pada dunia edukasi secara masal atau karena pemikiran dan filosofi dari konsep metode semacam outbound ini adalah abadi dan memiliki daya tarik universal? atau mungkin kedua faktor tersebutlah yang membuat metode ini menjadi populer dan terus berkembang.

Yang jelas sang penemu metode outward bound atau lebih dikenal outbound training , Kurt Hahn telah meninggal pada tahun 1974 tetapi pengaruhnya dalam Outward Bound dan inisiatif pendidikan lainnya masih hidup hingga saat ini. Beliau lebih menekankan tercapainya tujuan daripada melatih fokus, dengan menggunakan cara yg sangat fleksibel, beragam dan sangat adaptatif. Begitu pula dengan metode Outbound Training, dengan programnya yang boleh dikatakan “tidak lazim”

Kisah Sang Penemu Outbound

Kurt Hahn lahir di Jerman pada tahun 1896, putra seorang industrialis Yahudi kaya, tapi ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Inggris sebagai warga negara Inggris. Sementara ia masih di SMA tahun 1902, ia menghabiskan liburan musim panas di Dolomites dengan teman-teman dari Abbotsholme, sebuah sekolah negeri Inggris. Selama rentang perjalanan ini, dalam sebuah diskusi tentang sistem sekolah umum Inggris, ketertarikan mengenai dunia pendidikan pertama kali masuk ke dalam benak Hahn. Hal ini menyebabkan ia menjadi terobsesi, kemudian ia mulai mendalami filsafat pendidikan dan sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Plato, Baden Powell, Cecil Reddie, Dr Arnold dari Rugby, Herman Lietz dan lain-lain.

Pada tahun 1904, saat ia masih muda, Hahn terkena “sunstroke” yang cukup parah sehingga membuatnya cacat permanen namun disinilah ia merasakan ketegaran karena ia memiliki semangat dan keberanian untuk bertahan hidup yang sangat tinggi. proses pemulihan diri ini dimanfaatkannya untuk mempelajari filsafat pendidikan secara lebih mendalam dan merumuskan sistem pendidikan yang hingga saat ini menjadi sangat populer.

Salah satu prinsip hidupnya yang ia pegang teguh sejak saat itu adalah, “ketidakmampuan Anda adalah Peluang Anda”, yaitu mengubah Tantangan menjadi Keuntungan, dengan cara selalu melakukan hal yang benar, terbaik dan bermanfaat meskipun dalam keadaan yang dirasakan sangat sesulit apapun.

Filsafat pendidikan Hahn adalah perpaduan dari apa yang dianggap sebagai ide terbaik yang diambil dari berbagai sumber. Menurutnya, pendidikan adalah seperti pengobatan, metode pengobatan yang ada pada saat ini adalah hasil penemuan dan penyempurnaan dari metode metode terdahulu, jika anda datang ke seorang ahli bedah umum dan meminta untuk membedah usus anda dengan cara yang terbaik dan benar, pasti dokter ahli bedah umum tersebut akan menyarankan anda untuk datang ke ahli bedah yang lebih ahli mengenai usus.

Jadi menurut Hahn, tidak ada yang istimewa dan baru dari metode “temuannya”, karena menurut Hahn, ia hanyalah mengumpulkan, merumuskan kemudian mengemasnya dengan cara yang dianggapnya paling sesuai dengan pengalaman atau proses hidupnya pada masa itu. Beliau menganggap, lebih baik meminjam sebuah ide atau metode yang sudah teruji dan terbukti ketimbang harus mencari dan berkesperimen dengan metode baru.

Kunci keberhasilan Hahn adalah, ia berhasil merangkum, mengambil dan menggabungkan ide dan metode terbaik dari tiap pakar pendidikan di dunia, menjadi suatu metode edukasi yang sangat unik.

Hahn memiliki keyakinan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan potensi dan kekuatan spiritual serta kemampuan untuk membuat penilaian yang benar mengenai nilai hidup dan moral.

Dalam perkembangan hidupnya, seseorang itu kehilangan kekuatan spiritual ini dan kemampuan untuk membuat penilaian moral karena, apa yang Hahn sebut, diseased society dan the impulses of adolescence.

Oleh karena itu, Hahn terobsesi oleh dekadensi moral atau penyakit sosial yang dia amati di masyarakat, dan sangat tergerak untuk mencari solusinya, beberapa “penyakit” tersebut misalnya seperti :

* Penurunan tingkat kebugaran karena adanya sarana transportasi modern, pada saat itu lokomotif atau mesin
* Penurunan memori dan imajinasi karena bingung, waswas, stress, gelisah akibat dampak dari modernisasi
* Penurunan tingkat keterampilan dan perhatian karena melemahnya tradisi dan budaya yang positif serta keahlian
* Penurunan disiplin diri karena ketergantungan pada obat-obat perangsang dan obat penenang
* Penurunan rasa cinta dan kasih sayang antar sesama karena masing masing sibuk dan egois dengan gaya hidup modernnya

Sebagai bagian dari perhatiannya terhadap kekuatan dan kemampuan fisik adalah, ia percaya bahwa setiap manusia memiliki bakat kemampuan fisik, baik bakat fisik alamiah maupun ketidakmampuan fisik alamiah, misalnya seperti cacat fisik.

Keduanya memiliki kelebihan dan memberikan kesempatan: satu untuk mengembangkan kekuatan dan yang lainnya untuk mengatasi kelemahan. Inilah yang menjadi prinsip atau pegangan Hahn’s berikutnya yaitu,

“Ada banyak kelebihan pada diri anda daripada yang anda pikirkan dan bayangkan.”

Tujuan Hahn adalah untuk menyediakan wahana ideal untuk mengaktifkan kesadaran dan potensi kekuatan tersebut, sehingga setiap orang dapat menemukan kesempurnaan jati diri manusianya dan salah satu wahana yang ia buat adalah Outward Bound atau lebih populer di Indonesia dengan istilah Outbound Training.

*dirangkum dari berbagai sumber

Banyak cara menjadi pintar. Satu yang paling klasik dan kita kenal adalah belajar serius melalui sekolah formal. Pilihan ini memang yang paling populer sejak jaman tempo kala. Itu terbukti dari banyaknya lahir orang pintar dengan beragam gelar. Ironisnya, dunia usaha dan lapangan kerja saat ini, ternyata tak cukup direbut hanya dengan berbekal label ‘smart’ secara formal, tapi juga harus dengan sederet ‘kemampuan’ tambahan seperti kemampuan berbahasa atau keterampilan lainnya. Artinya dunia usaha kini, apapun bidangnya, menuntut orang tak lagi hanya sekadar pandai secara intelektual, tapi juga memiliki skill (keterampilan yang mampu untuk melakukan pekerjaan tertentu.

Tuntutan itu, mau tak mau, menuntut dunia pendidikan kini harus merancang dan mengembangkan program pendidikan yang lebih kompromis terhadap tuntutan pasar tenaga kerja. Salah satu pendekatan yang coba mereka lakukan adalah mendesain program Eperiential Learning (belajar dari pengalaman).

Di banyak negara maju, sebut saja Amerika dan Eropa, model program Experiential Learning makin banyak ditawarkan berbagai universitas sebagai sebuah alternatif belajar. Sebagian dari universitas itu menyebut program ini sebagai model belajar cooperative. Tapi apapun istilahnya, prinsipnya model pendidikan itu memungkinkan setiap orang yang belajar bisa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang studi yang digelutinya. Dalam beberapa hal, cara ini dianggap lebih mudah dan memungkinkan setiap orang yang belajar dengan cara ini, bisa memahami secara utuh semua aspek menyangkut dunia yang akan menjadi pilihan karirnya nanti.

Konsep Experiential Learning, ini sesungguhnya relatif sederhana. Mereka mencoba mengkombinasikan model belajar-mengajar sekolah formal yang selami ini lebih banyak dilakukan didalam kelas, dengan belajar diluar kelas. Material pendidikan di luar kelas itulah yang diorientasikan untuk memberikan pengalaman pada siswa sesuai dengan bidang studi yang di tekuninya.

Menurut sejarahnya, program Experiential Learning awalnya dikembangkan di sekolah-sekolah kejuruan, seperti bisnis, teknologi atau pendidikan. sekolah-sekolah ini umumnya memang memprogramkan materi khusus bagi siswa mereka untuk bisa mendapatkan pengalaman bekerja dilingkungan yang sesuai dengan bidang studi yang mereka tekuni atau dalam istilah kita disebut kerja praktek atau magang.

Secara umum, sudah sejak lama sebetulnya banyak pendapat yang menyebut bahwa model belajar formal yang dilakukan di dalam kelas,  relatif tidak cukup memberikan bekal bagi siswa pada saat mereka harus bekerja. Dengan kata lain, ilmu yang digali di dalam kelas, tidak bisa berfungsi secara sistematis di dunia nyata. Dan karenanya muncul kebutuhan akan sebuah program belajar secara sistematis bisa menjembati 2 (dua) kebutuhan tadi. Maka lahirlah sebuah pendekatan yang disebut sebagai  Experiential Learning itu.

Makin hari, pendekatan Experiential Learning ini, makin banyak diminati. Sehingga mau tak mau, peningkatan minat siswa atau mahasiswa untuk mengambil program Experiential Learning itu, mendorong kalangan dunia pendidikan juga mengembangkan program serupa. Bahkan belakangan, banyak sekolah lanjutan atas (SMU) di AS, kini juga sibuk mengembangkan program yang secara mendasar bisa memberikan siswa lebih banyak kesempatan untuk menyerap materi pendidikan secara konseptual dan empirik sekaligus.

Panduan antara pemahaman konseptual dan pratikal itulah yang terus dikembangkan menjadi sebuah program Experiential Learning di segala lapisan pendidikan. Tidak hanya bisa dikembangkan untuk mereka yang sudah duduk di tingkat pendidikan tinggi, tapi juga mereka yang masih duduk di tingkat pendidikan lanjutan dan dasar. Bahkan mereka yang mungkin sudah melewati pendidikan tinggi namun masih ingin menambah dan mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya.

 


EXPERIENTIAL LEARNING CONCEPT


Banyak cara menjadi pintar. Satu yang paling klasik dan kita kenal adalah belajar serius melalui sekolah formal. Pilihan ini memang yang paling populer sejak jaman tempo kala. Itu terbukti dari banyaknya lahir orang pintar dengan beragam gelar. Ironisnya, dunia usaha dan lapangan kerja saat ini, ternyata tak cukup direbut hanya dengan berbekal label ‘smart’ secara formal, tapi juga harus dengan sederet ‘kemampuan’ tambahan seperti kemampuan berbahasa atau keterampilan lainnya. Artinya dunia usaha kini, apapun bidangnya, menuntut orang tak lagi hanya sekadar pandai secara intelektual, tapi juga memiliki skill (keterampilan yang mampu untuk melakukan pekerjaan tertentu.

Tuntutan itu, mau tak mau, menuntut dunia pendidikan kini harus merancang dan mengembangkan program pendidikan yang lebih kompromis terhadap tuntutan pasar tenaga kerja. Salah satu pendekatan yang coba mereka lakukan adalah mendesain program Eperiential Learning (belajar dari pengalaman).

Di banyak negara maju, sebut saja Amerika dan Eropa, model program Experiential Learning makin banyak ditawarkan berbagai universitas sebagai sebuah alternatif belajar. Sebagian dari universitas itu menyebut program ini sebagai model belajar cooperative. Tapi apapun istilahnya, prinsipnya model pendidikan itu memungkinkan setiap orang yang belajar bisa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang studi yang digelutinya. Dalam beberapa hal, cara ini dianggap lebih mudah dan memungkinkan setiap orang yang belajar dengan cara ini, bisa memahami secara utuh semua aspek menyangkut dunia yang akan menjadi pilihan karirnya nanti.

Konsep Experiential Learning, ini sesungguhnya relatif sederhana. Mereka mencoba mengkombinasikan model belajar-mengajar sekolah formal yang selami ini lebih banyak dilakukan didalam kelas, dengan belajar diluar kelas. Material pendidikan di luar kelas itulah yang diorientasikan untuk memberikan pengalaman pada siswa sesuai dengan bidang studi yang di tekuninya.

Menurut sejarahnya, program Experiential Learning awalnya dikembangkan di sekolah-sekolah kejuruan, seperti bisnis, teknologi atau pendidikan. sekolah-sekolah ini umumnya memang memprogramkan materi khusus bagi siswa mereka untuk bisa mendapatkan pengalaman bekerja dilingkungan yang sesuai dengan bidang studi yang mereka tekuni atau dalam istilah kita disebut kerja praktek atau magang.

Secara umum, sudah sejak lama sebetulnya banyak pendapat yang menyebut bahwa model belajar formal yang dilakukan di dalam kelas,  relatif tidak cukup memberikan bekal bagi siswa pada saat mereka harus bekerja. Dengan kata lain, ilmu yang digali di dalam kelas, tidak bisa berfungsi secara sistematis di dunia nyata. Dan karenanya muncul kebutuhan akan sebuah program belajar secara sistematis bisa menjembati 2 (dua) kebutuhan tadi. Maka lahirlah sebuah pendekatan yang disebut sebagai  Experiential Learning itu.

Makin hari, pendekatan Experiential Learning ini, makin banyak diminati. Sehingga mau tak mau, peningkatan minat siswa atau mahasiswa untuk mengambil program Experiential Learning itu, mendorong kalangan dunia pendidikan juga mengembangkan program serupa. Bahkan belakangan, banyak sekolah lanjutan atas (SMU) di AS, kini juga sibuk mengembangkan program yang secara mendasar bisa memberikan siswa lebih banyak kesempatan untuk menyerap materi pendidikan secara konseptual dan empirik sekaligus.

Panduan antara pemahaman konseptual dan pratikal itulah yang terus dikembangkan menjadi sebuah program Experiential Learning di segala lapisan pendidikan. Tidak hanya bisa dikembangkan untuk mereka yang sudah duduk di tingkat pendidikan tinggi, tapi juga mereka yang masih duduk di tingkat pendidikan lanjutan dan dasar. Bahkan mereka yang mungkin sudah melewati pendidikan tinggi namun masih ingin menambah dan mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya.


OUTBOUND TRAINING ADALAH…..


Punya kegemaran jalan-jalan ke alam bebas ? Bersyukurlah jika Anda merupakan orang yang punya hobi asyik ini. Bersahabat dengan alam ternyata dapat menjadi tes psikologi yang ampuh bagi seseorang. Dewasa ini, kegiatan belajar bersama alam terbuka marak ditawarkan. Pergilah keluar rumah, ke alam terbuka. Rasakan bagaimana ketika kita berinteraksi baik dengan alam sekitar maupun sesama manusia, kita bisa mengambil banyak pengalamandan pelajaran berharga. Sebuah Pengalaman yang akan diterapkan sebagai konsep belajar dan membuka diri sendiri. Konsep inilah yang dianggap sanggup untuk merangsang banyak aktivitas kita sehari-hari.

Belakangan bila Anda jeli, ternyata tidak hanya dunia pendidikan saja yang mencoba untuk menggunakannya dalam kurikulum pembelajarannya, tapi juga banyak perusahaan yang tertarik untuk mencicipi program belajar ke alam terbuka. Meningkatnya permintaan akan model pelatihan ini berakibat banyak bermunculan operator outbound baru. Lambat laun karena tidak semua operator mengerti dan paham secara jelas mengenai outbound training akhirnya masyarakat awam terlanjur rancu dengan istilah outbound training. Banyak penyedia jasa maupun pengguna jasa berbasis aktivitas tali-temali (ropes course) menyebut kegiatannya sebagai outbound training. Sementara itu, banyak pula yang menyebut kegiatan rekreasi (outing) dengan outbound, hanya karena beberapa jenis permainan yang biasa digunakan dalam pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based) dimainkan pada acara itu. Di lain pihak, ada yang menyebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka sebagai outbound training.

Apa yang dimaksud Outbound Training ? Tentu kita pernah mendengar kata ‘Outbound Training‘ tapi tidak banyak diantara kita yang tahu apa itu outbound training. Secara mudah outbound training dapat diartikan sebagai salah satu metode pelatihan yang menggunakan alam sebagai media pembelajarannya.

Apa yang disebut sebagai outbound training oleh mereka yang menggunakan alam terbuka sebagai media belajar, sebenarnya lebih tepat jika disebut pelatihan berbasis kegiatan di alam terbuka (outdoor-based training) dengan mengedepankan pendekatan belajar dari pengalaman (experiential learning).

Uraian yang disampaikan Wien tadi disetujui oleh Handriatno Waseso dari RAKATA—salah satu operator pelatihan di alam terbuka. Katanya, dalam literatur belajar dari pengalaman tak pernah dikenal istilah outbound training. ”Yang ada itu, outdoor based training. Mungkin salah kaprah ini karena operator pertama yang memasarkan pelatihan model ini di Indonesia adalah Outward Bound Indonesia (OBI). Karena keseringan disebut akhirnya keluar istilah outbound training,” tutur Handriatno mencoba meraba awal mula salah kaprah tadi.

Outbound training merupakan jenis latihan di alam terbuka (outdoor) untuk pengembangan diri (self development) yang disimulasi melalui permainan-permainan edukatif (educative game) baik secara individual maupun kelompok dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, berpikir kreatif, rasa kebersamaan, tanggung jawab, komunikasi, rasa saling percaya, dll. Training dalam Outbound dapat diikuti oleh semua kalangan dan semua usia dari anak-anak sampai dewasa. Setiap game outbound mempunyai tujuan-tujuan yang disesuaikan seperti : team building, communication skills, problem solving motivating, challages, dll

Secara singkat, Claxton (1987) mengemukakan bahwa yang disebut experiential learning (EL) adalah proses belajar di mana subjek melakukan sesuatu—bukan hanya memikirkan sesuatu. Ditinjau dari pengertian ini, maka apa yang dilakukan peserta belajar, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas, dapat disebut sebagai EL.

Pepatah mengatakan bahwa ”pengalaman adalah guru yang paling baik”. Makna yang sama telah dikemukakan oleh Confucius beberapa abad lalu. Dia mengatakan bahwa: ”aku melakukan, maka aku memahami”.

Lebih jauh Wien memaparkan bahwa kegiatan EL itu tak terbatas belajar di alam terbuka. ”Cakupannya bisa dari bercocok tanam sampai ke conflict resolution. Dari assessment (psikologis) sampai ke perkembangan remaja. Dari skill training sampai ke model-model teori.” Malahan sebagian besar orang menyebut bahwa semua jenis pendidikan adalah EL.
Yah… memang dengan banyak bermunculannya pendapat dari banyak orang mengenai apa itu sebenarnya Outbound Training. Agar tidak terjadi kesimpang siuran mengenai informasi ini ,maka ada baiknya disimak apa itu pengertian Outbound Training dari seorang pakar Psikologi yang lebih sering dikenal sebagai “Professor” Outboundnya Indonesia yaitu Prof. Dr. Djamaludin Ancok menurut beliau outbound training adalah ; salah satu bentuk kegiatan yang paling efektif untuk meningkatkan motivasi dan kreativitas adalah pembentukan kerja sama tim yang dilakukan melalui outbond training di alam terbuka.

Namun terlepas dari semua perbedaan pola pikir kita mengenai metode pelatihan ini, kita sepenuhnya sadar sedikit banyak metode outbound training telah merubah banyak karakter anak bangsa ini. Semua kembali ke kita masing2 akan mengartikan apa outbound training ini, yang penting porses membangun karakter anak bangsa ini dengan metode outbound training jangan sampai berhenti


PROVIDER OUTBOUND DI JAWA TIMUR


burma bridge 300x203 wisata outbound pacet (jawa timur)Tren perkembangan kegiatan pendidikan di luar kelas ini sangat pesat di jawa timur, sejak era tahun 90-an perkembangan kegiatan outbound mengalami beberapa prubahan program dan konsep kegiatan. Dari kegiatan  yang murni untuk pelatihan berkembang menjadi konsep kegiatan menyenangkan di awal tahun 2000-an, selanjutnya berkembang lagi menjadi wisata edukasi yang di peruntukan anak – anak usia pelajar.

Di awal tahun 2009 di daerah pacet mulai di lirik beberapa investor yang tertarik pada wisata & outbound pacet. Mereka berbondong – bondong membangun fasilitas penunjang outbound seperti villa dan lahan permainan. Sehingga sekarang di daerah pacet muncul beberapa provider yang menyediakan jasa pelatihan outbound dan organizer kegiatan seperti family gathering area jawa timur.

Salah satu provider yang menangani program tersebut adalah RAYAENAM Training & Outing Organizer  siap memfasilitasi kegiatan yang anda rencanakan.

RAYAENAM Training & Outing Organizer merupakan provider di Jawa Timur yang beroperasi di wilayah Pacet, Tretes dan Trawas.

Banyak program yang di tawarkan RAYAENAM Training & Outing Organizer mulai dari pelatihan karyawan perusahaan, pendidikan alam, organizer kegiatan alam, paket extreme jelajah alam, paket akomodasi, dll